Selasa, 06 Oktober 2020

Di depan gubuk itu, amarahku terhenti!




Siang itu saya bergegas menuju BIM center, tempat saya dan beberapa teman melakukan aktivitas sosial. Di tempat itu pula saya membuat usaha bimbel dengan memberdayakan anak-anak dhuafa tingkat SMA sebagai pengajar. Dengan menahan amarah saya masuk kedalam kantor, sebelumnya Bahrudin menelpon saya menggunakan telepon kantor bahwa uang tiga ratus ribu rupiah raib. "Kok bisa hilang si Din?" saya mengintegrosinya. "Terakhir Agus pak yang membuka loker uang kas itu!" jawab Bahrudin.  

Setelah mendapatkan informasi alamat rumah, saya memacu sepeda motor saya dengan kecepatan tinggi. "Nih anak kok lancang sekali mengambil uang hasil bimbel!" gerutu saya dalam hati sambil menahan emosi. Setelah sampai dilokasi yang dituju, saya bertanya pada tetangga sekitar, maklum rumahnya ternyata dipojok dan terhalang rumah tetangga. 

Seorang anak kecil yang sedang bermain layangan bersedia mengantar saya pada rumah yang saya tuju. Baru beberapa langkah saya terhenyak, rumah itu hanya dari bilik bambu dengan dinding yang setengahnya terbuka, atapnya yang terbuat dari genteng nyaris jatuh ketanah sepertinya genteng-genteng itu sudah mulai jenuh bersandar pada atap yang mulai rapuh. Amarah saya seketika menghilang, saya coba melangkah menuju depan pintu, dari dinding yang berlubang tampak properti ruang tamu, hanya tumpukan kardus dan ruang tamu itu menyatu dengan ruang tidur. Dapurnya hanya sekat kecil dan didapur terdapat kandang angsa. Saya menghela nafas, ada rasa ragu untuk masuk namun rasa penasaran menyergap dan sayapun memberanikan diri mengetuk pintu. 

Bayangan Agus sang penghuni sudah tampak dari dinding anyaman yang tak sempurna menutup rumah. "Maafkan Agus Pak" Agus keluar dari rumah seraya mencium tangan. Sepertinya anak itu sudah tau maksud kedatangan saya. "Kenapa kamu lakukan itu Gus?" tanya saya seraya memeluk anak itu. Amarah saya benar-benar hilang, bahkan saya nyaris menitikkan air mata. "Sudah dua hari ayah Agus tak pernah pulang, Agus dan adik kelaparan menunggu ayah sampai larut malam". "Agus mau ngutang ke warung tetangga sekedar beli instan, tapi ayah Agus punya hutang tiga ratus ribu pak, hutang itu harus dibayar dulu, baru Agus bisa mengutang lagi". Agus menjawab pertanyaan sambil mengusap matanya yang basah.

Tanpa banyak kata, saya memeluknya. Ya Allah maafkan hamba, ucap saya lirih. Akhirnya amarah itu berganti derai air mata. Agus tenggelam dalam pelukan saya sambil terisak. Saya hanya mampu menundukkan mata, menahan agar air mata itu tak tumpah. "Ya Robb ampuni hamba" ucap saya kembali dalam hati.


Ridwan Nurhadi


#Day1AISEIWritingChallenge

6 komentar:

Rita Wati mengatakan...

Semoga Allah memudahkan rezeki bagi Agus dan keluarga

Komang Elly Mahayani mengatakan...

Menyentuh hati banget semoga rezeki datang berlimpah

indrakeren mengatakan...

Terharu saya bacanya
Semoga Agus dan penulis diberikan banyak rezeki serta selalu diberikan keSehatan
Amin

Siti Halimah mengatakan...

Terharuuuu...

Pak D Susanto mengatakan...

Betapa mulia hatimu. Meskipun mengambl tanpa hak harus di
sadarkan.

lesileop. mengatakan...

tulisan yg menyentuh hati pa, jika ini kisah nyata semoga Agus baik2 saja skrng

Posting Komentar

 
;