Rabu, 07 Oktober 2020

Mengajak Tuhan taruhan

 

Judulnya provokatif ya, mana ada yang berani ngajak Tuhan taruhan, tapi kalau judulnya biasa saja kan oang gak penasaran untuk membacanya. Kisah ini seratus persen adalah pengalaman pribadi penulis dan para tokohnya pun nyata.

"Mas Ridwan, bisa ketemuan di masjid ba'da Ashar, saya ada perlu". Sebuah SMS masuk ke HP saya dan saya lihat Mas Tarmuzi yang mengirimnya. Beliau adalah salah satu donatur BIM, sebuah lembaga sosial tempat saya dan teman teman berkiprah. "Siap mas". jawab saya singkat. Hati saya masih diselimuti penasaran ada apa gerangan.

Sore itu di beranda masjid yang teduh, selepas salat ashar kami pun berjumpa. Kami mengambil tempat di teras masjid ditemani semilir angin dan sinar matahari yang teduh. "Ene opo mas?" tanya saya membuka pembicaraan. " Mas Ridwan, saya pengen ngambil kredit  motor tadinya. Saya cape mas, naik sepeda terus untuk berangkat kerja". Mas Tarmuzi memulai ceritanya. "Wah mau pinjam uang nih" saya bergumam dalam hati. Saya pandangi wajah masTarmuzi menunggu kalimat lanjutan yang akan ia kemukakan. Ia menundukkan wajahnya seraya menghela nafas seperti sulit untuk mengungkapkan sesuatu. "Wah bener nih mau pinjam uang " gumam saya dalam hati menghakimi situasi.

"Saya sudah kumpulkan uang DP mas, gak banyak sih cuma dua setengah juta, tapi saya mengurungkan niat untuk bayar DP motor. Uang ini mau saya sumbangkan ke BIM, mas. Buat pendidikan anak-anak yatim" Mas Tarmuji melanjutkan kembali ceritanya."Saya mau mencoba menguji keajaiban sedekah mas, saya termotivasi ustadz  Yusuf Mansyur tentang sedekah". Mas Tarmuzi menatap saya. Kayaknya dia plong mengutarakan maksudnya. 

Seketika saya tertegun, uang sejumlah itu cukup besar dibandingkan penghasilannya namun tekadnya luar biasa. Sambil merogoh kantong baju Koko dia mengambil amplop putih yang sudah lusuh namun tak selusuh niatnya. Saya menjabat erat tangannya "Giving is believing" saya bergumam dalam hati.

Setelah itu kami berpisah, sepanjang jalan menuju rumah saya termenung. Dia merelakan seluruh uang muka kredit motornya untuk bersedekah. Ia bukan sekedar tak mau terjerat riba. Namun ia mempertaruhkan keyakinan kepada sang penguasa alam yang maha pengasih dan penyayang. 

Sore itu menjadi sore yang selalu terkenang. Beranda masjid, temaram sinar matahari dan ketulusan hati seorang dermawan. Tak punya bukan berarti tak berharga. Tak memiliki bukan berarti tak bisa berbagi. Giving is believing.


Ridwan Nurhadi

Day2AISEIWritingChallenge




4 komentar:

Kade Yuliani mengatakan...

Sungguh mulia hati yg bersedekah

lesileop. mengatakan...

suka sekali dengan judul nya namun ceritanya sepertinya belum tuntas ya, krn kurnag berhubungan dengan judulnya, tetap semangat

Dea mengatakan...

Hehe kadang judulnya cepat bisa menarik orang ya

astutiamudjono.wordpress.com mengatakan...

Jangan iri ya.keren tulisannya

Posting Komentar

 
;